MAKAN BACACAPAN ASAM KEBIASAAN UNIK URANG BANJAR




MAKAN BACACAPAN ASAM KEBIASAAN UNIK URANG BANJAR 




Gurih, asam, pedas, dan segar kesan pertama yang tertangkap. Makanan pelengkap sejenis acar ini membuat selera makan menjadi meningkat. Sebagai urang berasal dari Kalimantan. Urang Banjar biasa menyebutnya cacapan asam. Rasanya ada yang kurang di lidah urang banjar tanpa ada cacapan asam sebagai pelengkap makan ditambah lagi dengan cabai rawit, membuat rasanya semakin menggugah.   
Cacapan sendiri berasal dari bahasa Banjar yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu mencocol. Cacapan asam sering dijadikan pendamping makanan seperti, ikan bakar, ikan goreng, dan lain-lain. Urang Banjar biasanya menikmati cacapan ini dengan ikan papuyu (betok) baubar, ikan haruan (gabus) bakar, ataupun dengan terong bakar dan juga pucuk gumbili (daun singkong). Penggunaannya sebagai makanan pelengkap layaknya sambal. Tapi bisa juga cacapan asam ini di makan bersamaan bersama sambal acan khas Banjar ditambah dengan minumanya teh hangat.
Cacapan sendiri sudah ada sejak dahulu, bahkan cacapan ini sudah menjadi pelengkap makan turun temurun. Hal ini karena dikenalkan oleh orang tua kepada anaknya. Julia seorang mahasiwa FKIP ULM mengungkapkan “sejak saya kecil saya sudah suka dengan cacapan asam, karna ibu saya sering membuatnya ketika kami makan bersama” ungkapnya.   
Cara membuat cacapan ini sangat mudah. Diawali dengan irisan bawang merah serta cincangan mangga muda dan ditambah garam dan penyedap rasa serta air secukupnya. Bisa juga ditambahkan cabai rawit sesuai selera. Makin banyak cincangan mangga muda semakin membuat cacapan ini asam dan sensasi itu yang dicari oleh lidah urang Banjar. Hal inilah membuat cacapan asam gampang dibuat dirumahan.
Asam khas dari cacapan asam ini yaitu asam jawa dan buah-buahan yang berasa asam. Biasanya buah-buahan yang digunakan seperti mangga muda, asam kuini muda, belimbing wuluh, jeruk nipis, limau kuit, binjai ataupun buah gandaria. Buah mangga dan kuini muda, binjai ini termasuk buah musiman. Hal ini menyebabkan cacapan tersebut ada pada saat musim buah itu saja.
Buah gandaria juga hanya bisa digunakan pada musim tertentu saja. Hal ini di karenakan buah gandaria hanya berbuah setahun sekali saja. Buah gandaria ini merupakan buah endemik dari Kalimantan. Urang Banjar menyebut buah gandaria dengan sebutan buah ramania. Cacapan asam akan terasa lebih mantap jika memasukkan buah ini ke dalam cacapan asam.
Cacapan asam merupakan makanan pelengkap rumahan karena memang jarang ditemukan di warung makan. Biasanya di rumah makan hanya disediakan sambal acan khas banjar saja. Hal ini dikarenakan rasa asam dari buah gandari atau ramania yang disukai masyarakat jarang bisa dijumpai. Buah yang menjadi ciri khas dari cacapan asam ini hanya bisa dijumpai dimusim-musim tertentu saja. Faktor inilah yang membuat cacapan asam sulit ditemukan di warung-warung atau rumah makan. 
Sebenarnya kebiasaan makan dengan bacacapan itu ada diberbagai daerah. Namun yang membedakannya yaitu jenis cacapannya. Seperti makan dengan mencacap sambal atau saos. Hal ini diungkapkan pula oleh Zulfaisal Putera dari dinas kebudayaan dan pariwisata Banjarmasin melalui kolom komentar dilaman facebooknya “setiap daerah punya kebiasaan itu. Makan sambil mencecap ke sambal, saos, atau kuah tertentu yang membedakan barangkali adalah jenis cecapannya”, tulisnya.
Urang Banjar memanfaatkan hasil alam dengan berbagai cara dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Satu diantaranya memanfaatkan buah ramania dalam membuat cacapan asam. Cacapan asam sendiri hasil wujud nyata dari kebiasaan masyarakat yang memanfaatkan hasil alam. Alam menyediakan segalanya tinggal manusia yang memanfaatkan hasil alam yang sudah ada. Pemanfaatan ini pun harusnya dengan bijak sesuai kegunaannya.

Penulis: Hidayanti, Mahmudah, dan Rizki M. Shaleh
Sumber: wawancara

Comments

Popular posts from this blog

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PADA ABAD KE-20

DAMPAK PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PADA MASYARAKAT